Fotografi Bagi Kehidupan

Bagi Fotografer, Kamera adalah alat eksplorasi, paspor menuju dunia terpencil, dan instrumen perubahan. Karya mereka menjadi bukti bahwa fotografi bermakna bagi kehidupan”

[National Geographic]

Kutipan di atas saya ambil dari majalah National Geographic Indonesia (NGI) edisi ulang tahun ke-125, Oktober 2013. Kutipan yang membuat saya terdiam, dan kembali berpikir tentang “untuk apa saya memotret”. Setiap kita pasti memiliki jawaban berbeda atas pertanyaan tersebut. Ada yang memotret karena sekedar hobi, sekedar jepret, seru-seruan, bisnis, atau ingin menghasilkan karya yang bermakna bagi kehidupan.

Jadi, untuk apa kita memotret? 

Terkadang, kita terlalu disibukkan dengan hal-hal teknis dalam pemotretan. Dan lupa pada pertanyaan mendasar “kenapa foto ini dihasilkan, untuk apa foto ini dihasilkan, dan apa yang ingin saya sampaikan melalui foto ini”.

Dalam majalah NGI disebutkan setidaknya ada 5 fungsi foto:

1. Sebagai Saksi

Limbah menutupi aliran sungai di Banjir Kanal Timur, Jakarta. Permasalahan lingkungan yang harusnya menjadi tanggungjawab kita semua. [Foto. Khairuddin Safri | tOekangpoto Frame Jakarta. Foto dimuat di Tajuk.co]

Limbah menutupi aliran sungai di Banjir Kanal Timur, Jakarta. Permasalahan lingkungan yang harusnya menjadi tanggungjawab kita semua. [Foto. Khairuddin Safri | tOekangpoto Frame Jakarta. Foto dimuat di Tajuk.co]

Selain dipenuhi Limbah, aliran sungai BKT dipenuhi oleh rumput liar. [Foto. Khairuddin Safri | tOekangpoto Frame Jakarta]

Selain dipenuhi Limbah, aliran sungai BKT dipenuhi oleh rumput liar. [Foto. Khairuddin Safri | tOekangpoto Frame Jakarta. Foto dimuat di Tajuk.co]

“Fotografi adalah senjata melawan apa yang salah di luar sana, memberi kesaksian tentang kebenaran” [Brent Stirton]

2. Sebagai Bukti

Foto Letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 merupakan bukti dahsyatnya letusan gunung tersebut [Foto. Atas: Wicak |tOekangpoto Frame Bandung ; Bawah: Dudi Iskandar | tOekangpoto Frame Jakarta]

Foto Letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 merupakan bukti dahsyatnya letusan gunung tersebut [Foto. Atas: Wicak |tOekangpoto Frame Bandung ; Bawah: Dudi Iskandar | tOekangpoto Frame Jakarta]

Ribuan rumah dan hewan ternak hancur saat bencana Gunung Merapi terjadi 2010 silam. [Foto. Hafiez | tOekangpoto Frame Jakarta]

Ribuan rumah dan hewan ternak hancur saat bencana Gunung Merapi terjadi 2010 silam. [Foto. Hafiez | tOekangpoto Frame Jakarta]

“Foto adalah bukti yang kuat. Tak terbantahkan” [Brian Skerry]

3. Sebagai Sarana untuk Menautkan

"Secercah Cahaya Braille". Merupakan Photo Story yang bercerita tentang perjuangan Tuna Netra di Raudatul Makhfufin, untuk tetap membaca serta memahami Al-Quran, melalui Al-Quran Braille. (Foto. Khairuddin Safri. Member tOekangpoto Jakarta)

“Secercah Cahaya Braille”. Merupakan Photo Story yang bercerita tentang perjuangan Tuna Netra di Raudatul Makhfufin, untuk tetap membaca serta memahami Al-Quran, melalui Al-Quran Braille. (Foto. Khairuddin Safri. Member tOekangpoto Jakarta)

Fotografer membutuhkan waktu yang cukup panjang, melakukan riset dan pendekatan kepada Subjek sebelum foto disajikan kepada kita semua. [Foto. Woko Muchidin | tOekangpoto Frame Jakarta]

Fotografer membutuhkan waktu yang cukup panjang, melakukan riset dan pendekatan kepada Subjek sebelum foto disajikan kepada kita semua. [Foto. Woko Muchidin | tOekangpoto Frame Jakarta]

“Saya jatuh cinta pada hampir setiap orang yang saya foto. Saya ingin mendengar setiap cerita. Saya ingin mengenalnya lebih dekat” [Stephanie Sinclair]

4. Sebagai Pengungkapan

"Sejenak Pulanglah Nak, Ibu Ingin Mengecup Keningmu". Foto ini mengisahkan tentang kerinduan seorang ibu kepada anaknya. Foto yang mampu membuat hati tergetar dan teringat akan hangatnya kasih sang Ibu. Cinta Ibu yang terlampau sederhana untuk kita pahami. [Foto. Shandra Shapeka | tOekangpoto Frame Jawa Tengah]

“Sejenak Pulanglah Nak, Ibu Ingin Mengecup Keningmu”. Bercerita tentang kerinduan seorang ibu kepada anaknya. Foto yang mampu membuat hati tergetar dan teringat akan hangatnya cinta sang Ibu. Cinta Ibu yang terlampau sederhana untuk kita pahami. [Foto. Shandra Shapeka | tOekangpoto Frame Jawa Tengah]

“Anda ingin mengungkapkan seperti apa hidup ini-untuk menunjukkan hal-hal yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya kita pahami” [Lynn Johnson]

5. Untuk Merayakan

Pemandangan Air Terjun Nyarai di Desa Gamaran, Lubuk Alung Sumatera Barat ini, keberadaannya bahkan belum diketahui oleh warga sekitar. (Foto. Ritno Kurniawan | tOekangpoto Frame Sumbar)

Pemandangan Air Terjun Nyarai di Desa Gamaran, Lubuk Alung Sumatera Barat ini, keberadaannya bahkan belum diketahui oleh warga sekitar. (Foto. Ritno Kurniawan | tOekangpoto Frame Sumbar)

“Tugas saya: membuka mata orang-orang agar melihat hal-hal menakjubkan yang tidak mereka ketahui pernah ada”

 [George Steinmetz]

Lalu, bagaimana cara fotografer untuk lebih bermakna bagi kehidupan?

Sederhananya, foto yang kita sajikan tidak hanya menangkap sisi indah dari dunia, tapi mampu membuka jendela dunia dan mengubah cara pandang kita pada dunia itu sendiri (NGI,2013). Maka, selamat menghayati cahaya, dan berartilah bagi kehidupan 🙂

Advertisements